Dishub Kabupaten Cirebon Minta Angkutan Daring Dan Konvensional Terapkan Protokol Kesehatan

Home / Berita / Dishub Kabupaten Cirebon Minta Angkutan Daring Dan Konvensional Terapkan Protokol Kesehatan
Dishub Kabupaten Cirebon Minta Angkutan Daring Dan Konvensional Terapkan Protokol Kesehatan Sekat Penumpang Bagi Ojol (FOTO: KabarUang.com)
Fokus Berita

TIMESSEMARANG, CIREBON – Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon (Dishub Kabupaten Cirebon) menegaskan kepada seluruh pengendara angkutan dalam jaringan (daring) dan konvensional untuk bisa menerapkan protokol kesehatan saat penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Kepala Dishub Kabupaten Cirebon, Denny Subdiana, menjelaskan, saat ini ada salah satu perusahaan penyedia jasa angkutan daring yang berupaya menerapkan protokol kesehatan, yakni dengan cara menyiapkan separator atau pembatas baik untuk kendaraan roda dua atau empat.

‎"Hal tersebut merupakan inovasi memasuki persiapan AKB, sebagai bentuk mendukung program pemerintah. Belum lama ini diresmikan oleh kami," kata Denny di Kabupaten Cirebon, Kamis (2/7/2020).

Dishub Kabupaten Cirebon, dalam waktu dekat juga akan menerbitkan regulasi untuk perusahaan penyedia jasa angkutan daring. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah covid-19.

Denny mengatakan, beberapa poin yang harus dilakukan oleh perusahaan tersebut yakni, posko kesehatan, disinfektan, penutup rambut, separator pembatas, dan menyediakan check point.‎

Kemudian, untuk angkutan konvensional atau angkutan kota (angkot), selama masa transisi menuju AKB, harus mengangkut penumpang tidak lebih dari 50 persen kuota tempat duduk sehingga pelaksanaan physical distancing terjaga.‎

"Kondisi yang terjadi di lapangan, sebelum ada penerapan, angkot pun sudah mengalami penurunan jumlah penumpang‎," jelasnya.‎

Sebelumnya, sopir angkot di Kabupaten Cirebon, mengeluhkan penurunan pendapatan setiap harinya sejak penyebaran covid-19.‎ 

Di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, sejumlah sopir angkot tampak memarkirkan kendaraannya di bahu jalan untuk menunggu penumpang, hingga waktu 15 sampai 30 menit.

Setelah menunggu dalam rentang waktu tersebut,‎ penumpang yang menaiki angkot tersebut, diakui oleh para sopir tidak lebih dari tiga orang.

"Sekali perjalanan dari Sumber sampai Gunung Sari, penumpang paling banyak 7 orang. Sangat sepi sekali," kata seorang sopir angkot, Wahyu (39) beberapa waktu lalu.

Wahyu menyebutkan, setiap harinya, ia hanya mendapatkan pendapatan paling banyak Rp 70.000. Sedangkan, sebe‎lum adanya wabah Covid-19, ia mampu mendapatkan uang hingga Rp 200.000.

Ia menduga, penyebab penurunan pendapatan tersebut akibat penerapan belajar di rumah, karena mayoritas penumpang angkot yang ia kendarai merupakan pelajar menengah atas dan bawah. "Kata pemerintah di angkot juga harus menjaga jarak," katanya.

Selain Wahyu, sopir angkot lainnya, Tasidin (45), mengatakan, berharap adanya bantuan dari Dishub Kabupaten Cirebon atau pemerintah untuk meringankan beban, sehingga tidak terus mengalami kerugian. "Jangan cuma ojol saja yang diperhatikan, kami juga ingin diperhatikan pemerintah. Sopir angkot juga punya hak untuk hidup," katanya.‎ (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com