Kalkulasi Politik Pilkada Tuban 2020, Afirmasi Antar-Poros Ciutkan Nyali Bacalon

Home / Kopi TIMES / Kalkulasi Politik Pilkada Tuban 2020, Afirmasi Antar-Poros Ciutkan Nyali Bacalon
Kalkulasi Politik Pilkada Tuban 2020, Afirmasi Antar-Poros Ciutkan Nyali Bacalon Proses komunikasi politik pilkada Tuban 2020 (FOTO: Istimewa)

TIMESSEMARANG, TUBAN – Bursa Bakal Calon Bupati pada Pilkada Tuban 2020 kian menghangat. Nampaknya, lobi-lobi akan sering terjadi antara internal partai pengusung serta masih panjangnya proses tarik ulur demi mendapatkan rekomendasi partai.

Seperti d ketahui bersama, PDI-P dan Gerindra sama-sama telah membuka penjaringan Bacalon Bupati dan Wakil Bupati Tuban 2020. 

Kekuatan 5 kursi parpol PDI-P dan 5 kursi Gerindra dengan percaya diri menjadikan 10 kursi keterwakilannya sebagai syarat pengusungan pasangan calon dalam Pilkada Tuban. Dalam perjalanannya kemudian, kedua partai poitik (parpol) tersebut sepakat melebur menjadi Poros Merah Putih. 

Kedua parpol itu sepakat untuk mengumumkan nama-nama hasil penjaringan Bacabup pada akhir Januari 2020 ini yang pantas ditarungkan di Pilkada Tuban 2020.

Adanya Kesamaan Bursa Nama Bacalon Sebagai Pendaftar Lahirkan Poros Merah Putih

komunikasi-politik-pilkada-Tuban-2.jpg

Mengamati proses penjaringan Bacalon Bupati Tuban pada September 2019 lalu, PDI-P yang bermodal 5 kursi keterwalikan menghasilkan 18 nama Bacalon yakni Setiajit, Eko Wahyudi, Afwan Maksum, Aang Sutan, Santoso, Adi Widodo, M. Chamim Amir, Gunawan, Suryo Widodo, Raymond, Agus Maimun, Imam Sholikhin, Amir Burhannudin, Warih Setiawan, Sujali, Gatot Prayogo, Yasmiatun, dan Fredy Ardliyan Syah.

Sementara di pihak lain, Partai Gerindra pada proses penjaringan Bacabup pada Oktober 2019 menghasilkan 10 bursa nama, yaitu Setiajit (birokrat Pemprov Jatim), Eko Wahyudi (pengusaha pembangunan Tuban), Agus Maimun (tokoh muda milenial dan Ketua Karang Taruna Jatim), Adi Widodo (pengusaha muda bidang migas), Fredly Andrian Syah (putra Bupati Tuban), Sunarsip (ekonom nasional), Imam Sholikin (senator kader Partai Gerindra dan pengusaha), Warih Satria Setiawan (teknokrat), Suryo Widodo (kader partai dan pengusaha), dan Afwan Maksum (senator kader PDI-P).

Jika dicermati, terdapat sejumlah nama yang sama di hasil penjaringan Bacabup yang dilakukan kedua partai seperti Eko Wahyudi, Setiajit, Warih Satria Setiawan, Adi Widodo, Agus Maimun, Imam Sholikin, dan Fredly Andrian Syah.

Hal tersebut kemudian menjadi salah satu landasan kedua partai untuk berkoalisi dan mendirikan Poros Merah Putih 

Koalisi Poros Perubahan 

Sementara itu, munculnya sekretaris bersama Poros Perubahan dengan 12 kursi keterwakilan yang berasal dari gabungan parpol yakni Partai Demokrat (5 kursi), Partai Amanat Nasional (3 kursi), Partai Persatuan Pembangunan (2 kursi), dan Partai Nasional Demokrat (2 kursi), telah mengerucutkan 7 nama tokoh potensial. Namun, 6 nama di antaranya merupakan nama yang munculdari hasil penjaringan yang dilakukan PDI-P dan Partai Gerindra di Poros Merah Putih. Mereka adalah, Imam Sholikin, Setiajit, Eko Wahyudi, Adi Widodo, Agus Maimun, dan Warih Satria Setiawan. Hanya Mohammad  Anwar (Ketua DPC PD Tuban) yang menjadi satu-satunya nama baru yang muncul dalam penjaringan yang dilakukan oleh Koalisi Poros Perubahan.

komunikasi-politik-pilkada-Tuban-3.jpg

Secara logika, 6 nama yang muncul hasil dari penjaringan parpol dari dua koalisi sekaligus, yakni Koalisi Poros Merah Putih dan Koalisi Poros Perubahan, seharusnya sudah cukup mewakili kepentingan parpol yang hendak mengusungnya. Namun, dari 6 nama tersebut kenyataannyahanya segelintir yang lahir dari proses pengkaderan parpol.

Belum lagi,keenam Bacalon tersebut diberikan beban syarat uji publik demi mendapat rekomendasi parpol. Tak pelak para kandidat Bacalon seperti Setiajit, Kang Yudi, dan Gus Maimun yang notabene bukan struktur parpol, getol berkeliling ke seluruh kecamatan yang ada di Tuban.

Alih-alih mendapat kepercayaan di elit parpol di Tuban, para Bacalon nonkader parpol ini sudah terengah-engah terlebih dulu untuk berkompetisi. Bahkan ada juga yang terkesan hanya pamer tampang dengan hanya memasang baleho ala kadarnya.

Yang menarik, hingga pertengahan Januari 2020 ini tercatat sudah dua kali kedua koalisi parpol, yakni Koalisi Poros Merah Putih dan Koalisi Poros Perubahan bertemu. Pertemuan kedua koalisi tersebut memunculkan wacana mengejutkan, yakni pembentukan poros baru yang dinamakan Poros Warna-Warni. Poros yang tidak lain merupakan gabungan dari Poros Merah Putih dan Poros Perubahan tersebut berdalil dengan semangat persatuan dan perubahan dalam Pilkada Tuban 2020. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com