Surabaya Setelah Risma

Home / Kopi TIMES / Surabaya Setelah Risma
Surabaya Setelah Risma Moh. Syaeful Bahar, Dosen Fisip UIN Sunan Ampel Surabaya

TIMESSEMARANG, SURABAYA – Tidak salah bila lembaga ternama Forbes menominasikan Tri Rismaharini sebagai salah satu perempuan paling inspiratif pada tahun 2013.

Kesuksesan memimpin Kota Surabaya, membuat  Risma sebanjar dengan beberapa figur kenamaan semacam Ridwan Kamil, Azwar Anas, Anies Baswedan bahkan hingga Presiden Joko Widodo. Beragam penghargaan di level nasional hingga internasional, menjadi penanda eksistensinya sebagai pemimpin sukses diakui oleh berbagai kalangan.

Kini setelah dua periode memimpin Surabaya, perempuan yang berlatar kombinasi birokrat politisi ini segera purnakarya. Sesuai ketentuan undang-undang, Risma tidak bisa mencalonkan atau dicalonkan kembali sebagai wali kota untuk periode selanjutnya. Patut ditunggu, setelah ini ke mana Risma menjejakkan karir politiknya.

Tulisan ini tidak ingin meramal peruntungan Risma setelah tidak lagi menjadi wali kota Surabaya. Ada topik lain yang hemat saya jauh lebh penting karena menyangkut aspek kehidupan politik yang lebih besar. Hal itu menyangkut masa depan kepemimpinan Surabaya pasca Risma.

Selama sepuluh tahun terakhir, diskursus kepemimpinan di Surabaya lebih banyak diisi oleh ‘kampanye’ personalitas kepemimpinan Risma. Hal ini sebetulnya wajar, karena di tengah diskursus krisis kepemimpinan nasional, Risma seolah hadir seperti menjadi jawaban. Gaya yang eksplosif dan acapkali menampilkan citra di luar arus utama citra pemimpin yang selama ini dekat dengan pembawaan berwibawa, senyum tertata, emosi tertahan, membuat Risma berkarakter. 

Kebijakan berani yang diambil Risma semakin membuat sosoknya dikenal. Terutama karena beberapa pemimpin kota Surabaya sebelumnya yang didominasi laki-laki, dinilai tidak seberani Risma. Contohnya dalam kebijakan penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara saat itu, Dolly Surabaya. 

Tidak sekedar berani, Risma memimpin Surabaya dengan ‘otak’. Surabaya penuh dengan orang cerdas, dan Risma sadar dengan hal itu. Maka, modal ini dimanfaatkan oleh Risma membentuk team work kuat untuk menghadirkan solusi pembangunan Surabaya yang lebih efektif.
Lahirlah beragam kebijakan inovatif Risma yang dampaknya menyentuk banyak aspek masyarakat Surabaya. Surabaya-pun lahir menjadi salah satu referensi kota cerdas (smart city) sukses di Indonesia. Sebagai pengakuan, London Summit Leaders 2014 mengganjar Surabaya sebagai kota inovatif masa depan (Innovative City of the Future).

Di atas semua itu, Risma memimpin Surabaya dengan hati. Sebagai seorang perempuan, Risma sepertinya sadar betul dahsyatnya sentuhan hati. Dengan cara ini, Risma berhasil membangun relasi kedekatan dengan rakyat Surabaya.

Bagi warga Surabaya, Risma tidak hanya pemimpin, tetapi seorang ibu. Sebagai seorang ibu, hubungan dirasakan bukan sebatas impersonal, melainkan juga personal. Dengan relasi semacam ini, wajar jika kebijakan Risma hampir selalu mendapat dukungan dari masyarakat Surabaya.

Setelah Risma 

Risma boleh jadi profil ideal sebagai pemimpin Surabaya. Namun, waktu juga yang membatasi pengabdiannya. Yang perlu kita tegaskan, kemajuan Surabaya tidak boleh ikut berlalu seiring dengan berlalunya Risma sebagai wali kota.

Karena itu, Surabaya perlu dipimpin oleh orang yang mampu melanjutkan apa yang telah diperbuat oleh Risma serta memperbaiki kelemahan yang tersisa. Kita tidak perlu khawatir bahwa Surabaya menghadapi krisis kepemimpinan pasca Risma. karena sejatinya ada banyak figur pemimpin dengan kapabilitas dan kapasitas yang mampu menakhodai Surabaya.    

Surabaya memiliki banyak kader calon pemimpin potensial, termasuk dari segmen perempuan. Figur-figur srikandi yang memiliki kapasitas dan kapabilitas memadai untuk melanjutkan kepemimpinan wanita di Surabaya tidak terlalu sulit didapatkan.

Belakangan ini, di antara nama-nama figur yang dinilai layak menjadi calon wali kota Surabaya, beberapa di antaranya adalah perempuan. Sebut saja nama Dwi Astutik, Wakil Sekretaris PW Muslimat NU Jwa Timur dan Lia Istifhama, yang muncul di antara deretan bakal calon laki-laki seperti Wisnu Sakti Buana, Armuji dan sebagainya. Munculnya nama dari kalangan srikandi Nahdliyyin ini tentu menarik, setidaknya dalam ruang politik Surabaya yang selama ini didominasi ‘abangan’.

Padahal, mayoritas warga Surabaya adalah warga Nahdliyyin. Belum lagi bila melihat fakta historis, bahwa di kota satelit inilah NU pertama kali didirikan. Melihat dua proposisi ini, munculnya nama dari kalangan NU sebetulnya merupakan sebuah kewajaran.

Dengan pola pikir maysarakat Surabaya yang rasional, modal afiliasi dengan organisasi keagamaan tertentu memang bukan jaminan mendapatkan dukungan. Mengikuti logika teori pilihan raisonal (rational choice theory), apa yang bisa ditawarkan oleh kontestan dalam bentuk visi, misi dan program pembangunan adalah jualan yang paling dibutuhkan. 

Teori pilihan rasional beranggapan, bahwa seseorang bertindak selalu didasarkan atas kalkulasi rasional, terutama sesuai prinsi-prinsip ekonomi (Coleman & Fararo, 1992). Keuntungan apa yang bisa didapatkan serta seberapa besar resiko maupun potensi kerugian yang muncul, menjadi motif utama. 
Meski demikian, latar keagamaan seorang figur tidak sepenuhnya bisa diabaikan. Pertimbangan rasional dalam melabuhkan dukungan, terkadang membutuhkan afirmasi emosional. Pun demikian juga sebaliknya. 

Ketimbang substitutif, kedua pertimbangan lebih bersifat komplementer memengaruhi perilaku politik konstituen. Untuk meluruhkan emosi konstituen, kedekatan emosional atas dasar kesamaan latar organisasi keagamaan memiliki peran signifikan. 

Dalam rangka memenuhi kebutuhan rasional mereka, latar intelektual misalnya, dapat ditawarkan. Sebab kecakapan untuk membaca tantangan faktual sekaligus merumuskannya menjadi visi dan misi kepemimpinan hanya mungkin lahir dari nalar intelektual yang laik.

Dua modal-yang Bourdieu (1986) istilahkan sebagai modal- sosial dan kultural ini sebetulnya menjadi modal awal bagi figur yang berasal dari organisasi NU seperti Dwi Astutik. Nama ini, selain memiliki modal sosial sebagai tokoh organisasi muslimat NU dengan anggota paling besar, juga dibekali modal kultural menyangkut latar belakangnya sebagai akademisi bergelar doktor dari salah satu universitas ternama. Kombinasi kedua modal dalam figur ini tentu menjadi magnet elektoral penting yang tidak dimiliki oleh semua calon kontestan.

Ala kulli hal, sebagai kota besar Surabaya memiliki banyak stok pemimpin potensial dengan rekam jejak yang beragam. Pada akhirnya, bagaimana nasib kepemimpinan Surabaya ke depan, tergantung kepada bagaimana rakyat Surabaya secara cerdas dan dewasa melabuhkan pilihan.(*)

*) Moh. Syaeful Bahar, Dosen Fisip UIN Sunan Ampel Surabaya

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com