Makna Hari Bhayangkara Bagi Bhayangkari

Home / Kopi TIMES / Makna Hari Bhayangkara Bagi Bhayangkari
Makna Hari Bhayangkara Bagi Bhayangkari Ny. Shinta Nana Sudjana, Ketua Bhayangkari Daerah NTB

TIMESSEMARANG, MATARAMSERING kita mendengar idiom “di balik pria sukses selalu ada wanita hebat yang mendampinginya”. Hal ini cukup rasional karena sejarah membuktikan bagaimana peran wanita sangat mendukung kesuksesan sang suami seperti layaknya kisah Ainun-Habibie, Ani–SBY, Michelle–Barack Obama, Priscilla Chan–Mark Zuckerberg dan bahkan untuk Presiden Republik Indonesia saat ini Joko Widodo ada Ibu Iriana yang selalu setia mendampingi juga mendukungnya.

Peran istri sebagai pendamping hidup tak dapat diremehkan dalam kesuksesan suami meniti karir hingga membangun dan merawat rumah tangga. Menjadi Ibu bagi anak-anaknya yang memperhatikan dengan penuh kasih sayang.

Apalagi jika suami seorang anggota Polri. Mereka ialah orang-orang terpilih yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Memiliki waktu tugas yang tak terbatas. 1 x 24 jam selalu siap dengan segala hal yang kemungkinan terjadi.

Nyawa selalu menjadi taruhannya dalam menanggulangi kejahatan. Siap ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak jarang harus ditugaskan di daerah perbatasan maupun di tempat terpencil sampai di daerah konflik.

Sebagai Bhayangkari pun harus selalu mendampingi kemanapun suami bertugas bahkan tidak jarang berpisah dalam waktu yang cukup lama jika suami ditugaskan ke daerah operasi kepolisian dengan resiko sangat tinggi.

Istri mana yang rela melepas suami tercinta ke daerah yang semua orang menghindarinya? Tapi bagi Bhayangkari hal itu sudah biasa. Meskipun rasa khawatir dan was-was sering menghantui. Namun yang harus disadari Bhayangkari bahwa ia merupakan istri seorang prajurit Bhayangkara di mana mereka lahir dari rahim Ibu Pertiwi dan bertugas untuk menjaganya dengan segenap jiwa dan raga.

Polri kini merayakan hari jadinya yang ke-73. Usia yang tergolong sangat matang untuk satu organisasi besar. Namun tantangan yang dihadapinya pun semakin kompleks. Dari kejahatan konvensional dan narkoba hingga ancaman terorisme juga radikalisme masih menjadi PR berat bagi Polri.

Jika hari jadi ke-73 ini merupakan waktu untuk introspeksi diri dan evaluasi bagi Polri, maka itu juga wajib dilakukan oleh Bhayangkari karena peran Bhayangkari bagi Polri tentu sangat strategis. Bukan cuma sebagai istri dan ibu yang mengurusi rumah tangga, tetapi juga menjadi konsultan bagi suami dalam menjalankan tugas pengabdiannya. 

Bhayangkari dalam kapasitasnya sebagai organisasi juga harus mampu ikut memberi sumbangsih pelayanan dan pengayoman untuk masyarakat. Peran Bhayangkari tidak melulu ada di belakang, namun juga bisa di depan untuk membantu tugas-tugas Polri.

Satu contoh ketika terjadi bencana alam pada saat gempa di Lombok tahun 2018 lalu. Bhayangkari menjadi yang pertama dan terdepan untuk membangun dapur-dapur umum bukan hanya untuk anggota Polri yang bertugas, tetapi juga bagi para korban bencana.

Dalam hal ini, Bhayangkari tentu lebih memahami soal bagaimana mengelola dapur dan asupan nutrisi yang harus terpenuhi anggota Polri yang bertugas juga para korban bencana, terutama untuk anak-anak dan wanita remaja.

Peran Bhayangkari dalam kodratnya sebagai ibu pada kondisi tersebut sangat dibutuhkan. Jika seluruh anggota Polri berkonsentrasi pada proses evakuasi, pendirian tenda darurat dan pengamanan masyarakat saat bencana, lalu siapa yang mengurusi soal asupan gizi, pemenuhan kebutuhan untuk balita dan anak-anak juga wanita remaja? Di sinilah Bhayangkari ada dan berdampingan dengan Polri, bahu membahu untuk bangsa dan negara.

Yang tidak kalah pentingnya juga, Bhayangkari bersama-sama dengan Polri melakukan upaya-upaya preventif dan preemtif dalam penanganan masalah sosial masyarakat sehingga mencegah terjadinya dampak negatif dari persoalan-persoalan sosial tersebut.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini pasca terjadinya bencana gempa Lombok tahun lalu, masih menyiratkan trauma yang mendalam secara sosial dan ekonomi. Hal ini memungkinkan terjadinya efek domino negatif yang sangat serius untuk keamanan, sehingga cenderung akan berdampak pada naiknya angka kriminalitas ataupun persoalan-persoalan sosial lainnya.

Bagaimana tidak, jika seandainya sebelum bencana angka pengangguran menurun dan pendapatan masyarakat cenderung naik karena ditopang industri pariwisata yang berkembang pesat saat itu, lalu setelah bencana industri pariwisata menjadi sedemikian lesunya, maka kemungkinan terjadinya gesekan sosial hingga kejahatan konvensional juga meningkat.

Maka di sini, Bhayangkari baik sebagai organisasi maupun sebagai pendamping hidup bagi anggota Polri akan mencoba mengambil peran strategis dalam upaya-upaya pencegahan meluasnya dampak negatif itu. Terutama dalam hal perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi objek paling rentan.

Dalam kondisi ini, Bhayangkari akan lebih pro aktif dalam pemberdayaan masyarakat secara sosial dan ekonomi dengan menjalin koordinasi yang baik bersama persatuan istri-istri pada organisasi lainnya, termasuk ke dinas dinas terkait yang berkonsentrasi pada isu-isu sosial kemasyarakatan.

Dengan matangnya organisasi Polri di usianya yang ke-73 ini, maka tentu pula menuntut Bhayangkari semakin matang secara Sumber Daya Manusia (SDM) untuk membantu Polri dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Jika Polri ialah organisasi yang besar, maka Bhayangkari juga tentu ikut menjadi besar. Di mana ada Polri di situlah ada Bhayangkari. Maka di mana ada pelayanan Polri maka disitu jugalah Bhayangkari berperan menjadi sosok maupun organisasi yang dapat diandalkan untuk menjadi konsultan dalam pemecahan masalah. Menjadi tiang pancang utama bagi kokohnya sebuah keluarga sampai negara. Seperti pribahasa arab yang mengatakan “wanita ialah tiangnya negara”.

Akhir kata, dalam kesempatan ini saya sebagai Ketua Bhayangkari Daerah NTB ingin menyampaikan, Dirgahayu Bhayangkara yang ke 73. Semoga Polri semakin Profesional, Modern dan Terpercaya dalam menjalankan pengabdiannya. Tegaklah Bhayangkara Polda NTB untuk masyarakat, bangsa dan negara.(*) 

*) Penulis, Ny. Shinta Nana Sudjana, Ketua Bhayangkari Daerah NTB

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com