Gus Muwafiq dan Nalar Kritis Heidegger

Home / Kopi TIMES / Gus Muwafiq dan Nalar Kritis Heidegger
Gus Muwafiq dan Nalar Kritis Heidegger Ahmad Dahri mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESSEMARANG, MALANG – Baru-baru ini sikap sparatis terhadap pernyataan Gus Muwafiq dalam salah satu Mauidlah hasanahnya menjadi isu yang seksi di berbagai media. Di mana pernyataan beliau diduga sebagai sikap melecehkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bisa dipastikan, bahwa tidak sedikit yang pro dan kontra terhadap sikap tersebut. Sehingga terjadi adu pendapat, interpretasi, bahkan gerakan “sorak hore” juga menghiasi dinamika pernyataan Gus Muwafiq tersebut.

Langkah bijak yang diambil Gus Muwafiq dengan mengklarifikasi – serta meminta maaf seharusnya menjadi pertimbangan, bukan kemudian berlarut-larut dalam genangan persepsi yang digoreng sana dan  digoreng sini. Karena para akhirnya tidak akan ada titik temu yang pas. Apalagi ketika hal tersebut dibenturkan antar golongan ormas ini dan itu. Jika Nabi saja Pemaaf dan bermurah hati, lantas bagaimana dengan para pecinta Nabi?
 
Dalam hal ini seharusnya ada kesadaran fenomenologi yang dibangun dalam menyikapi pernyataan Gus Muwafiq. Heidegger dengan hermeneutika fenomenologinya beranggapan bahwa seharusnya “penafsir” tidak memasukkan kerangka berpikirnya terhadap apa yang dipahami, melaikan membiarkan apa yang diinterpretasikan itu tampak dan sebagai penafsir, biarkan kita menjumpai kenyataan itu sendiri. Sehingga tidak terjebak pada persepsi apalagi taqlid buta.
  
Manusia adalah Dasein menurut Heidegger, di mana abstraksi dan dualitas tidak belaku. Mengapa? karena manusia memiliki cara berpikir, sudut pandang dan persepsi. Seharusnya manusia tidak menggunakan kaca mata kuda dalam memandang dan menanggapi segala sesuatu, malainkan dengan memahami setiap sudut pandang yang ada dan terjadi. Dengan demikian sikap yang seharusnya dibangun dalam menyikapi polemik Gus Muwafiq adalah menyadari bahwa setiap manusia memiliki kesalahan, menyadari bahwa ada pergeseran nilai dalam memahami sesuatu (khususnya nilai-nilai dalam agama), menyadari adanya sikap ketergesa-gesaan dalam menghukumi benar dan salah, dan menyadari hal yang lain.
  
Sederhananya seperti dicontohkan dengan kisah seseorang yang meraba-raba bentuk gajah di ruang yang gelap, ada yang memegang belalainya, ada yang memegang ekornya, dan ada yang memegang telinganya. Sehingga penjelasan tentang gajah tidak hanya satu persepsi yang muncul tetapi beragam.
 
Semboyan Husserl dalam kontek hermeneutika adalah Zurűck zu den Sachen Selbst (Kembalilah kepada hal-hal itu sendiri). Untuk menemukan kebenaran atau ketersesuaian maka harus ada konfirmasi. Bukan kemudian saling melontarkan pendapat di majlis-majlis, media sosial, di group wa atau yang lain, seharusnya jika ada i’tikad baik dalam amar ma’ruf, maka tabayyun atau konfirmasi menjadi jalan terbaik untuk mencari kebenaran atau ketersesuaian tersebut. 
Al insan mahl al khoto’ wa nisyan, pedoman ini menjadi sikap alamiah setiap manusia, sebagai manusia, Gus Muwafiq menyadari adanya polemik dari apa yang beliau utarakan kemudian meminta maaf. Lantas sebagai pecinta Nabi Muhammad seharusnya tidak segan untuk memaafkan, seperti halnya pelempar batu dan kotoran kepada Nabi, yang kemudian oleh Nabi dimaafkan juga. Pertanyaannya adalah mengapa masih saja terjadi adu interpretasi dan adu dalil dalam hal ini?
 
Jika Heidegeer menawarkan Fenomenologi – ontologis yang tidak membiarkan persepsi abstraksi dan dualitas menjadi dasar interpretasinya, maka begitu juga dengan sikap terhadap Gus Muwafiq. Karena pada akhirnya bukan perihal interpretasi yang paling benar dan diakui, melainkan sikap dan kebijaksanaan dalam menyikapi itu yang menjadi ujung tombaknya.
 
Jika Nabi diyakini sebagai uswatunhasanah,  maka jelas ada etika yang harus dijunjung tinggi dalam menyikapi setiap permasalahan. Jika Gus Muwafiq sudah mengklarifikasi dan minta maaf maka selesai permasalahnnya. Karena tidak akan ada pemberhentian akhir dalam mencari-cari kesalahan setiap orang, kecuali merubah paradigma berpikir dan membangun kesadaran profetik kembali. Karena jika hal ini terjadi pada masa Nabi, maka Nabi sendiri akan bersikap sangat santun dalam menyikapi setiap permasalahan.
 
Oleh karenanya siapapun berhak mencintai Nabi, pun mencintai Gus Muwafiq sebagai ulama’, karena al Ulama warasatul anbiya’. Dan tidak salah juga ketika siapapun menunjukkan rasa cintanya, tetapi yang perlu diingat adalah sikap dan kebijaksanaan dalam mencintai. Agar tidaj terjebak pada fanatisme atau taqlid buta, lebih-lebih hanya menjadi gerakan sorak hore, hore sana, hore sini. (*)

*) Penulis, Ahmad Dahri, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com